Menghindari Korupsi dengan Hidup Sederhana

Arina Manasikana

Mahasiswi Semester VI, Fakultas Dakwah, Program Studi KPI asal Jakarta

 

Sederhana merupakan sebuah kata yang amat sangat indah untuk didengar dan dirasakan. Dengan kata sederhana, segala hal dapat berjalan mulus tanpa ada hambatan yang berat.

Dalam Islam kita dianjurkan untuk hidup penuh dengan kesederhanaan. Mulai dari cara berpakaian, dari memilih makanan, memilih barang-barang, bahkan dalam pemerintahan pun kita masih dianjurkan untuk tetap sederhana.

Sejatinya, hidup sederhana itu akan membuat kita menjadi lebih menikmati hidup dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah. Selain itu, hidup sederhana juga bisa meminimalisasi terjadinya kriminalitas. Salah satu penyebab terjadinya pencurian karena mereka yang selalu memamerkan harta mereka sehingga menimbulkan iri hati orang lain yang kurang mampu. Selain itu, hidup sederhana juga dapat membuat kita lebih dicintai oleh orang lain. Terlalu berlebihan dalam berpakaian bisa menimbulkan iri hati bagi orang lain yang tak mampu membeli pakaian tersebut.

Nabi Muhammad merupakan sosok manusia yang menghiasi hidupnya dengan penuh kesederhanaan. Walaupun beliau seorang pemimpin negara, ia tak pernah menggunakan pakaian yang mahal dan bersahaja. Ia selalu tampil sederhana.

Beliau juga pernah bersabda, “Kami, keluarga Muhammad, pernah tidak menyalakan api (tidak memasak makanan) selama sebulan penuh. Kami hanya makan kurma dan minum air.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibn Sa’ad, dan Ibn Hibban) Hadits tersebut menjadi rujukan bagi kita untuk instrospeksi diri. Beliau saja yang seorang Nabi serta pemimpin negara hidup dengan penuh kesederhanaan, lalu mengapa kita yang hanya manusia hina justru berlomba-lomba dalam kemewahan?

Kita sebagai umat Islam sudah seharusnya mencontoh sifat dan perilaku beliau terutama dalam kesederhanaan. Beliau pernah bersabda, “ Allah mencintai hamba-Nya yang beriman dan miskin tapi menahan diri tidak mengemis, padahal dia memiliki anak-anak (Misykat)

Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof. Dr, Hamka menafsirkan makna kata “perhiasan” pada ayat Al-A’raf ayat 31 yang berbunyi, “Wahai anak-anak Adam, pakailah perhiasan kamu pada tiap-tiap masjid” adalah memakai pakaian yang pantas dan yang terasa oleh hati kita sendiri bahwa begitulah yang pantas. Banyak dari masyarakat yang salah tafsir tentang ayat tersebut. Mereka mengira bahwa ayat tersebut menyuruh kita untuk berhias setiap masuk ke masjid dengan dalih untuk menghormati masjid dan segala perbuatan yang terjadi di dalamnya.

Semakin maju zaman, semakin banyak anjuran dan sunnah-sunnah dalam Islam yang ditinggalkan, padahal dengan dilandasi dengan aturan dan sunnah-sunnah tersebut hidup kita justru bisa menjadi semakin baik dan tenteram.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi seputar kesederhanaan, hidup dengan sederhana justru membawa banyak keuntungan bagi diri kita sendiri, selain lebih menghemat biaya hidup, tampil sederhana lebih membuat diri kita semakin nyaman dan bisa tampil apa adanya tanpa dibebani rasa gengsi yang nantinya akan menimbulkan banyak permasalahan.

Di balik kata sederhana tersembunyi banyak manfaat bagi diri kita sendiri. Dilihat dari sisi dunia, kita bisa merasakan nikmatnya hidup serta merasakan banyak kasih sayang dari orang sekitar, karena salah satu penyebab timbulnya iri hati itu bersumber dari harta. Selain itu, kita juga bisa terhindar dari berbagai tindakan kejahatan seperi pencurian, bahkan pembunuhan. Kita juga bisa terhindar dari penyakit hedonisme yang tergila-gila terhadap harta dunia. Jika kita sudah terlena dengan harta, maka kita tidak akan memikirkan orang lain. Dan jika kita sudah dibutakan oleh harta maka tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kasus korupsi yang sudah merajalela di negara kita ini juga dimulai dari tidak tertanamnya sifat sederhana dalam diri para pejabat. Mereka yang sudah terbiasa hidup dengan penuh kemewahan merasa selalu kurang dengan apa yang mereka dapat, sehingga mereka memilih jalan untuk melakukan korupsi.

Jika dilihat dari sisi agama, kita bisa dicintai oleh Allah SWT, karena Allah mencintai orang-orang yang sederhana dan tidak berlebihan. Kita juga bisa mendapatkan syafaat Nabi Muhammad karena telah mengikuti sunnah-sunnahnya dan terhindar dari dosa yang ditimbulkan akibat tidak tertanamnya sifat sederhana dalam diri kita.

Kita sebagai umat Nabi seharusnya bertanya-tanya, mengapa beliau yang dipilih menjadi manusia terbaik justru lebih memilih hidup dengan penuh kesederhanaan, padahal jika beliau menginginkan kemewahan itu adalah hal sangat mudah untuk beliau dapatkan. Seharusnya pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bahan refleksi bagi diri kita untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.

Meresapi perilaku dan akhlak Nabi Muhammad dapat menjadi tameng yang akan melindungi kita dari berbagai macam bahaya dan dapat merubah kita menjadi manusia yang lebih baik di masa mendatang.

Sekretaris IDIA 06/02/17 Opini Mahasiswa

2 Comments

  1. ya benar sekali, cara paling mudah mencegah terjadinya korupsi adalah dengan membiasakan hidup sederhana dan selalu bersyukur

  2. sehabis saya membaca opini anda, saya tertarik dengan kasus korupsi yang menjadi contoh tolak ukur kesederhanaan, nah bagaimana menurut anda sederhana pemerintah untuk menanggulangi korupsi yang semakin meningkat dengan gaya hidup yang tinggi?????

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *