Politik Nabi Vs Politik Ahok

Teguh Ab. Rahman Mahasiswa Semester VI  Fakultas Dakwah Prodi KPI asal Gili Raja Sumenep   “Agama dan politik jangan dicampuradukkan”. Kurang lebih begitu kata Pak Ahok dalam salah satu interview penistaan Agama. Agama dan politik adalah persoalan yang berada di ranah yang rumit untuk dipecahkan, karena politik sendiri selalu berperan aktif dalam membela suatu kelompok begitupun dengan agama. Oleh karena itu, Pak Ahok menyampaikan kalau jangan ada campur aduk antara agama dan politik. Pak Ahok berani menyampaikan itu, karena posisi dia sebagai tersangka akan menyebabkan dirinya sulit untuk maju ke kursi gubernur DKI Jakarta. Sekalipun dia berhasil maju dalam pemilihan tersebut. Di samping itu semua, pemuka agama dan politisi sama-sama mempunyai peran penting dalam menjalankan pemerintahan, entah itu sebagai pemimpin kota, daerah lebih-lebih ibu kota dan negara. Jika politik dan agama tidak dipadukan, lalu, bagaimana politik akan menjalankan aturan pemerintahan tanpa menyelipkan aturan agama. Aturan yang memang real menjadi pedoman dalam kehidupan manusia. Ketika politik dan agama harus dipisah, maka bagaimana dengan Pancasila? Sebagai ideologi bangsa, Pancasila sudah tentu dirumuskan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama, seperti termaktub pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.   Cara Politik Nabi Rasulullah begitu jenius dalam memerankan politik sebagai pemimpin negara Islam. Kejeniusan yang beliau meiliki telah terbukti dan diamini kebenarannya oleh para ahli teknik dan pemerhati politik di dunia Islam. Di samping itu, kepemimpinannya tidak dapat diukur atau dibandingkan dengan kepemimpinan siapa...

Read More