Al-ḥilmu yusbiḥ haqīqatan, mimpi menjadi kenyataan” Ungkap Prof. Dr. H. Sangidu, M.Hum, memberi motivasi kepada para dosen IDIA untuk memiliki mimpi untuk maju. Pernyataan ini disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema percepatan pengembangan perguruan tinggi berbasis pesantren yang diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian kegiatan Kesyukuran 70 Tahun Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Sabtu (10/9).

Lebih lanjut Guru besar Sastra Arab Modern Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta ini mengungkapkan bahwa tidak tertutup kemungkinan pada masa-masa berikutnya perguruan tinggi pesantren akan bergerak cepat. Hal ini dibuktikan dengan munculnya Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) dan beberapa perguruan tinggi lainnya yang berada di bawah naungan pesantren. Termasuk juga IDIA.

“Perlu ditanamkan kesamaan presepsi bahwa bergerak maju untuk kemajuan lembaga bukan untuk kepentingan pribadi” tambah profesor kelahiran 23 Juli 1959 di Surakarta ini.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh sivitas akademika IDIA ini, para peserta diskusi diingatkan bahwa dalam pengembangan diri dosen dan perguruan tinggi perlu ada strategi khusus. Semisal untuk dosen harus tahu kapan melakukan publikasi untuk kenaikan pangkat dan kapan perguruan tinggi pesantren harus mulai menginduk kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi guna bisa mengakses banyak informasi dan fasilitas yang tersedia di kementerian ini.

Saat ditanya perihal publikasi internasional, profesor Tim Penilai PAK Kemdikbud Ristek, yang mencapai guru besar di usia 50 tahun ini menyarankan agar publikasi di jurnal Scopus, bukan di prosiding Scopus. Karena banyak dosen yang mengajukan guru besar dengan prosiding Scopus, nilainya turun.

Dalam kesempatan yang lain, Dr. H. Mashuri Toha, selalu Warek II yang bertanggung jawab untuk peningkatan kualitas SDM di IDIA menyatakan bahwa sempat dibuat tulisan “kalau tidak mau meneliti, jangan menjadi dosen”, sebagai salah satu upaya menciptakan academic society di IDIA.