Senin (12/09/2022) hari kedua AICIMS kembali dengan tema “Pesantren Education For Millenial Genertion”. Pendidikan pesantren memang layak untuk terus digaungkan ke mancanegara, dengan pembicara pertama yaitu Dr. Umar Bukhory. Dari penelitiannya tentang bahasa Arab sebagai bagian dari subjek utama dalam kurikullum dapat ditemukan bahwa, beberapa kesulitan untuk mendapatkan premesi yang terbaca dari kepala sekolah. Karena ini adalah sekolah formal dan pemerintah.

Selanjutnya, Muhammad Maqbul Mawardi (salah satu dosen IDIA Prenduan yang saat ini sedang berada di luar Negeri untuk melanjutkan pendidikannya). Pengaplikasian positive education pada lingkup pesantren masih menjadi pertanyaan. Walau bisa dikatakan beberapa sekolah di Indonesia sudah mulai mengaplikasikannya. Walupun positive education memiliki banyak keutamaan, namun ada satu faktor kekurangan yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam pengaplikasian di ranah pondok pesantren, yaitu tidak adanya pengikut sertaan perihal “Ketuhanan” dalam proses pengaplikasian. Yang mana telah dikatahui, ketuhanan merupakan unsur paling dasar dan paling penting dalam membentuk pondok pesantren.

Dr. Rima, juga menyampaikan tentang pengasingan dan itikaf merupakan dua hal yang sama sekali berbeda, yakni berbeda dalam rentang waktu. Pengasingan membutuhkan satu bulan atau bahkan satu tahun. Sementara I’tikaf hanya beberapa jam. Selain itu Dr. Izzat Amini, M.Pd. juga menyampaikan bahwa pesantren diharapkan dapat memberikan pendidikan terbaik dan tidak hanya pada kemegahan bangunan itu sendiri. Para guru dan pemangku kepentingan lainnya perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Dr. Baron, proses panjang merancang protokol adalah kunci dari scannes yang mentransfer pembelajaran tatap muka ke pembelajaran online. Selain itu Dr. Muslimin S.Th.I., MA (UIN Raden Intan lampung – Indonesia, elit agama dalam prespektif fungsional. Empiris historis meliputi sektor agama, sektor budaya, sektor pendidikan yang meliputi pendidikan formal dan informal. Sementara tradisional tradisi chawisan diliput beberapa era, dari era kolonial hingga era reformasi. Di mana kiai berdiri sebagai tokoh agama. Begitulah pendidikan pesantren apabila ditinjau dari beberapa sisi dan negara. Sehingga penilaiannya pun sangat komprehensif serta dapat membuka ruang baru bagi pesantren di seluruh dunia.